Syaikh Salim ibnu Sumair
Al Imam Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’id bin Sumair seorang waliyullah yang dilahirkan di negerinya Al Habib Hasan Bin Soleh Al-Bahr di Hadromaut. Beliau lahir dibesarkan oleh orangtuanya, Syaikh Abdullah bin Sa’id bin Sumair termasuk daripada tokoh ulama besar di hadromaut yang dikenal sebagai Abadillah Sab’ah, 7 orang tokoh dengan nama yang sama yaitu Abdullah. Di satu masa tersebut ada 7 orang tokoh ulama besar di Hadromaut yang dikenal dengan Abadillah Sab’ah, 7 orang yang bernama Abdullah, diantaranya ayah beliau, yaitu Abdullah bin Sa’id bin Sumair, kemudian Abdullah bin Ahmad Basaudan, yang kita sering juga baca Hadrahnya yaitu Hadrah Basaudan pada hari selasa, yang beliau juga merupakan salah satu dari guru Syaikh Salim.
Jadi, 7 Tokoh Nama Abdullah yang di masa tersebut Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Idrus bin Syahab, Abdullah bin Husein Bafaqih, Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir, Al-Habib Abdullah bin Abi Bakr Aidid, Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan, dan Syeikh Abdullah Bin Sa’id Bin Sumair. 7 tokoh ini berkumpul pada waktu yang sama, para ahlli fiqih dan ahli-ahli bidang ilmu yang lain. Dan keluasan ilmunya tidak diragukan lagi.
Syaikh Salim ibnu Sumair, pengarang kitab Safinatun Naja, dikuburkan di Indonesia, di bawah Masjid Al-Makmur di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Beliau berasal dari Hadromaut tetapi hijrah ketika penguasa di Hadromaut yaitu Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katiri yang dulunya sejalan, searah, satu visi, satu misi dengan beliau tapi mulai membelok. Akhirnya karena sudah tidak ada kesamaan, beliau hijrah ke negeri Hindia, kemudian hijrah lagi ke Indonesia, ke Batavia. Karena beliau tokoh ulama besar, beliau disambut oleh para ulama-ulama di negeri Batavia (Jakarta), banyak murid yang mengambil ilmu dari beliau, banyak sekali dari orang-orang besar menimba ilmu dari Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’id bin Sumair ini.
Syaikh Salim ibnu Sumair menimba ilmu di negeri Hadromaut sampai berda’wah di negeri Hadromaut sampai kejadian antara beliau dengan Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katiri, sehingga beliau pindah ke negeri India, walaupun dulunya karena pintarnya beliau di dalam segala bidang ilmu, bahkan di dalam bidang politik, siasat, peperangan, kenegaraan, beliau pernah diutus sampai ke negeri Singapura untuk membeli alat perang oleh Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katiri. Tetapi ketika sudah tidak didengar lagi saran dan nasihat-nasihat beliau oleh Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katiri, beliau akhirnya pindah ke negeri India, kemudian melanjutkan ke negeri Batavia, disambut hebat dinegeri Batavia melawan kolonial Belanda, mendekati pejabat-pejabat yang main ke dalam kolonial Belanda pada saat itu.
Beliau keras dan tegas menjalankan dakwahnya Rasulullah SAW sampai ada sedikit masalah dengan Qadhi Betawi yaitu Habib Utsman Bin Yahya, Mufti Betawi. Syaikh Salim ada sedikit masalah dengan Habib Utsman, karena Habib Utsman berusaha untuk merangkul para kolonial Belanda karena kemaslahatan. Setelah Habib Utsman menjelaskan, Syaikh Salim ibnu Sumair akhirnya menerima alasan-alasan dari Habib Ustman bin Yahya. Mereka berjuang berdakwah bersama-sama dengan banyak sekali karangan-karangan. Diantara karangan Syaikh Salim yaitu kitab Safinatun Naja. Beliau wafat pada tahun 1271 H bertepatan dengan 1855 M, dan dimakamkan di tanah Abang di bawah mihrab di Masjid Al-Makmur Tanah Abang.





