Berdo’a di Kuburan Sholihin
ومات علي بن موسى الرضا بطوس من شربة سقاه إياه المأمون وقبره بساناباذ خارج النوقان مشهور يزار بجنب قبر الرشيد وقد زرته مرارا كثيرة. وما حلت بي شدة فى وقت مقامي بطوس فزرت قبر علي بن موسى الرضا ودعوت الله أزالتها عني إلا استجيب لى وزالت عني تلك الشدة وهذا شيء جربته مرارا فوجدته كذلك
Ali bin Musa al-Ridho meninggal di kota Thus karena racun yang di minumkan oleh (khalifah) al-Ma-mun (bin Harun ar-Rasyid), kuburnya terletak di Sanabadz di luar Nuqan, sangat populer dan selalu diziarahi orang, di sebelah makam Ar-Rasyid. Aku berulang kali ziarah ke sana, setiap aku mengalami kesulitan selama tinggal di Thus kemudian aku menziarahi makam Ali bin Musa ar-Ridha dan aku berdoa kepada Allah agar menghilangkan kesulitan dariku, kecuali pasti doaku di kabulkan oleh Allah dan hilanglah kesulitan itu dariku. Hal ini berulang kali aku lakukan dan senantiasa terbukti.
[Ats-Tsiqot 8:356-357]
Imam ibnu Hibban menulis dalam kitab ats-Tsiqot, yang berisi biografi muhaddits yang tsiqoh yang beliau pegang haditsnya, bahwa ketika di kota Thus, beliau suka berziarah ke makam salah satu muhaddits tsiqoh, yaitu Sayyid Ali ar-Ridho bin Musa al-Kazhim bin Ja’far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaynal Abidin as-Sajjad bin Husain cucu Rosulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Hal itu beliau lakukan terutama ketika menghadapi kesulitan, lalu beliau berdo’a di makam tersebut agar Alloh menghilangkan kesulitan yang beliau alami. Setiap kali beliau melakukan itu, maka hilanglah kesulitan yang beliau alami.
Imam ibnu Hibban berdoa di kuburan seseorang yang oleh sebagian kelompok syiah dianggap sebagai Imam kedelapan. Lalu akankah lisan yang jahat itu berani menyebut Imam ibnu Hibban sebagai syi’ah? Atau sebagai quburiyyun, penyembah qubur? Siapa yang lebih paham tentang tauhid, si lisan jahat ataukah Imam ibnu Hibban?
Berdo’a di kuburan orang sholih bukan hanya Imam ibnu Hibban yang mengajarkan. Bahkan ibunda kaum mu-minin, Sayyidah ‘A-isyah binti Abu Bakr ash-Shiddiq pun mengajarkan hal itu.
Diriwayatkan oleh Imam Addarimi :
عن أبى الجوزاء أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : ( قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ قَحْطاً شَدِيداً ، فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ : انْظُرُوا قَبْرَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَاجْعَلُوا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لاَ يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ . قَالَ : فَفَعَلُوا ، فَمُطِرْنَا مَطَراً حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتِ الإِبِلُ ، حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ ، فَسُمِّىَ عَامَ الْفَتْقِ
Dari Aus bin Abdullah: Suatu hari Madinah mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madinah kepada Sayyidah Aisyah untuk mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Sayyidah Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, lalu bukalah atapnya sehingga tidak ada lagi penghalang antara kubur beliau dengan langit.” Maka mereka pun melakukan itu, kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk. [Sunan ad-Darimi No.92]
Lalu akankah si lisan jahat menyebut ummul mu-minin dan para shahabat serta tabi’in itu musyrik? Siapa yang lebih paham tawhid, si lisan jahat ataukah Sayyidah Aisyah?




